Diam, bukan berati tidak peduli kan? Aku hanya sedang mencoba belajar untuk mencintanya dalam diam. Seperti yang ku lakukan dulu saat sekolah.
Entah kenapa, perasaanku ini sepertinya berubah-ubah. Kadang, kalau ada yang membicarakan masalah pernikahan denganku, aku ragu untuk bilang aku mengharapkannya jadi suamiku. Pengetahuannya yang kurang dari sikap diri yang acuh tak acuh untuk belajar membuatku enggan dan ingin melangkah menjauh perlahan. Tapi di sisi lain, kalau aku sedang sendirian, aku sering mengingatnya. Aku sering merindukannya, dan merindukan saat-saat ketika kami masih bersama dulu.
Aah, kamu memang baik, kamu memang spesial di hatiku, tapi apa iya kamu mampu menjadi pemimpin yang baik untukku? Aku tak memimpikan calon suami yang sempurna, tapi seorang calon yang shaleh, itu harus.
Aku mengerti, semua nya pasti adalah cerminan dari kita, tapi apa salahnya berharap. Meskipun hati masih bimbang. Karena dia juga setengah yakin mau melanjutkan pada hubungan yang lebih serius. Coba saja perhatikan. Sudah sebulan lebih semenjak aku memintanya datang ke rumah untuk membicarakan keseriusannya. Tapi? Mana dia? Sibuk, itu yang dia bilang. Tapi menurut hematku, kalau memang tidak berminat ya bilang saja di awal, jadi aku tidak perlu menunggu seperti ini.
Sekilas, aku terlihat seperti orang yang tak peduli dengan perasaanku. Tapi kalau dengan begini aku tidak merasakan beban hidup, maka biarlah saja terus berjalan seperti ini. Aku nggak mau dipusingkan sama masalah-masalah sepele apalagi kalau cuma tentang laki-laki yang belum halal buatku.
Jadi, let's move and make your life brighter ..
It's a pleasant to be your friend ..
FB : Rumaisha Al Hisaan
Twitter : @Rumaishaalhisan


0 comments:
Post a Comment