Sahabat, Engkau Hidayah Terindah Itu

by 8:32 PM 0 comments

           Aku tumbuh besar, dalam keluarga yang cukup mengenal agama. Ayah dan bundaku, bukanlah orang-orang yang suka meninggalkan kewajiban beribadah. Bahkan, mereka selalu mengingatkanku dengan nasihat-nasihat mereka.
Katanya, “Jangan pernah meninggalkan shalat ya, Nak …” Nasihat sederhana, yang dulu sering aku sepelekan. Dulu, ketika aku masih tengil dan nakal.

           Kini, aku sudah beranjak dewasa. Jika dulu aku masih harus diarahkan, kini aku harus menentukan arah untuk diriku sendiri. Delapan belas tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk mengenal pribadiku sendiri. Untuk tahu apa yang harus aku lakukan untuk hidupku yang selanjutnya.

           Islam, bagiku, dulu hanya sekedar agama dengan begitu banyak kewajiban. Melelahkan dan membosankan. Hanya saat hari raya aku dapat bergembira. Karena, aku dapat baju baru, uang  jajan yang lebih banyak dari biasanya, dan pastinya, banyak kue-kue enak. Aku tak pernah mengerti mengapa aku harus berpuasa, shalat, saling memberi, terutama bersosialisasi. Karena aku pernah punya saat-saat di mana aku ingin sendiri. Tak ingin diganggu, dan tak mau peduli.

           Hingga, saat aku mulai menginjak bangku sekolah menengah pertama, saat ku rasakan masa kedewasaanku pertama kali, ku kenal begitu banyak orang dengan karakter berbeda di sana. Begitu berbeda dengan saat aku masih menduduki bangku sekolah dasar. Mencari teman, terasa begitu sulit. Aku bahkan tak mampu menjadi diriku seutuhnya. Mengekspresikan apa yang ku mau. Hingga pada tahun yang ke dua, aku mengenal seseorang. Dan memulai sebagian kisah hidupku yang baru dengannya.

           Dia, seorang gadis dengan langkah enerjik yang tak pernah lelah menyemangati dirinya untuk terus menuntut ilmu, menarik lenganku. Mengajakku pergi berkeliling sekolah, menikmati indahnya suasana saat hari hujan berdua dengan payung kami. “ Mumpung sekolah sepi”, ucapnya sambil tersenyum ceria.

           Aku turuti saja langkah kakinya, Kuputar-putar payungku sampbil membayangkan cerita-cerita romantic ala china.

           Iya, sudah lama sekali peristiwa itu terjadi. Namun sampai kini aku masih ingat senyum cerianya dan langkah penuh semangatnya. Indahnya kenangan itu. Dulu kami membayangkan cita-cita kami, sambil saling membaca hasil tulisan kami dan berkomentar ini itu.

           Tak pernah, ku temukan seseorang yang memiliki sifat begitu mirip dengan aku. Bedanya, ia tak pernah takut mencoba, dan ia mau jadi orang pertama yang membuat perubahan. Tidak seperti aku, yang hanya bisa ikut-ikutan dan tak mau banyak ambil peran.

           Dia tidak seperti gadis-gadis yang ku kenal kala itu. Yang berteman dengan orang yang dapat memberikan kebutuhan mereka. Paham ? Kenyamanan, popularitas, apa pun. Dia berbeda.

            Dia tidak menilaiku dari rupa, karena aku tidak cantik. Dia tidak menilaiku dari popularitas, karena aku waktu itu tidak populer, bahkan bisa dibilang kuper. Dia juga tidak menilaiku karena aku pintar, masih banyak yang lebih pintar dariku. Bahkan sampai saat ini aku belum bisa mendefinisikan mengapa ia mau jadi temanku. Tapi, yang pasti, aku merasa persahabatan kami sangat istimewa, bagiku.

            Aku menganggapnya gadis aneh, saat pertama kali bertemu. Ia memakai kerudung. Berbeda dengan temanku yag lain, ia tak pernah mau melepas kerudungnya. Aku bahkan pernah menganggapnya kolot, tapi kemudian itulah yang membuatnya istimewa.

            Banyaknya kesamaan yang kami temukan antara kami, membuatku kami semakin dekat. Kami sama-sama suka  menulis. Kami sering saling bertukar tulisan untuk saling mengomentari. Dan pada saat-saat itulah, ia sering menceritakan banyak hal berharga padaku.

            Ia bercerita tentang keluarganya. Bagaimana ayah dan ibunya mendidiknya sejak kecil. Ada hal menarik dari kebiasaan mereka, yaitu, ayahnya selalu menyempatkan diri memberikan kuliah shubuh tiap pagi kepada seluruh anggota keluarga. Bahkan pembantu mereka juga turut mendengarkan. Dan kalau dia butuh uang tambahan untuk keperluan sekolah, ibunya tak pernah langsung memberikan padanya. Dia harus menghafal surat baru kemudian ibunya akan memberikannya uang.

            Darinya aku mengenal banyak tentang islam. Tentang arti sebenarnya kesugguhan, keikhlasan, keteguhan keyakinan, percaya diri dan banyak hal lainnya. Darinya pula aku tau bahwa menggunakan kerudung atau khimar bagi seorang muslimah itu adalah kewajiban. Bukan pilihan. Sebuah kesempurnaan iman dan keyakinan.

            Tapi, di balik semua hal indah yang ku alami dan ku dapat darinya, ada hal buruk yang membuatku tak pernah berhenti menyesal kala aku mengingatnya. Satu kenangan buruk terakhir kali yang menodai indahnya kenangan persahabatan kami

            Aku menyesal telah bersikap begitu egois dan arogan padanya, di saat-saat terakhir kebersamaan kami. Meskipun, konflik itu adalah suatu hal yang wajar dalam sebuah hubungan persahabatan, tapi konflik itu seakan menjadi penutup hubungan persahabatan kami. Sesuatu yang seandainya bisa ku ulang, ingin kuperbaiki.

            Berawal, dari penyesalan itulah, ku labuhkan tekad dalam hatiku untuk berubah menjadi seseorang yang lebih baik. Yang ku ikrarkan saat aku mulai melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.  Sekolah ke empat dalam sejarah kehidupanku. Dengan itu ku mulai hijrah pertamaku untuk mengikuti jejaknya, sahabatku yag paling ku rindu. Yang menggunakan khimar yang selama ini selalu di banggakannya di hadapanku. Meski niat ku saat itu karena dia, tapi kemudian, setelah aku semakin mengerti tentang artinya hijrah bagi seorang muslim, aku mulai mengikhlaskan niatku. Aku yakin, sesungguhnya, Ia, Yang Maha Berkehendak telah menitipkan hidayah-Nya lewat sahabat yang ku cinta. Meski dengan penutup yang pahit, tapi tidak ada hal yang sia-sia yang telah Ia tetapkan. Bismillah .. Kan ku genggam hidayah ini erat-erat selamanya. Semoga langkah ini selalu dalam ridho-Nya.

It's a pleasant to be your friend ..
FB       : Rumaisha Al Hisaan
Twitter : @Rumaishaalhisan


Nasabekasi

Developer

Cras justo odio, dapibus ac facilisis in, egestas eget quam. Curabitur blandit tempus porttitor. Vivamus sagittis lacus vel augue laoreet rutrum faucibus dolor auctor.

0 comments:

Post a Comment