Aku tumbuh besar, dalam keluarga yang cukup mengenal agama. Ayah dan bundaku, bukanlah orang-orang yang suka meninggalkan kewajiban beribadah. Bahkan, mereka selalu mengingatkanku dengan nasihat-nasihat mereka.
Katanya, “Jangan pernah meninggalkan shalat ya, Nak …” Nasihat sederhana, yang dulu sering aku sepelekan. Dulu, ketika aku masih tengil dan nakal.
Kini, aku sudah beranjak dewasa. Jika dulu aku masih harus diarahkan, kini aku
harus menentukan arah untuk diriku sendiri. Delapan belas tahun bukanlah waktu
yang sebentar untuk mengenal pribadiku sendiri. Untuk tahu apa yang harus aku
lakukan untuk hidupku yang selanjutnya.
Islam, bagiku, dulu hanya sekedar agama dengan begitu banyak kewajiban.
Melelahkan dan membosankan. Hanya saat hari raya aku dapat bergembira. Karena,
aku dapat baju baru, uang jajan yang lebih banyak dari biasanya, dan
pastinya, banyak kue-kue enak. Aku tak pernah mengerti mengapa aku harus
berpuasa, shalat, saling memberi, terutama bersosialisasi. Karena aku pernah
punya saat-saat di mana aku ingin sendiri. Tak ingin diganggu, dan tak mau
peduli.
Hingga, saat aku mulai menginjak bangku sekolah menengah pertama, saat ku
rasakan masa kedewasaanku pertama kali, ku kenal begitu banyak orang dengan
karakter berbeda di sana. Begitu berbeda dengan saat aku masih menduduki bangku
sekolah dasar. Mencari teman, terasa begitu sulit. Aku bahkan tak mampu menjadi
diriku seutuhnya. Mengekspresikan apa yang ku mau. Hingga pada tahun yang ke
dua, aku mengenal seseorang. Dan memulai sebagian kisah hidupku yang baru
dengannya.
Dia, seorang gadis dengan langkah enerjik yang tak pernah lelah menyemangati dirinya
untuk terus menuntut ilmu, menarik lenganku. Mengajakku pergi berkeliling
sekolah, menikmati indahnya suasana saat hari hujan berdua dengan payung kami.
“ Mumpung sekolah sepi”, ucapnya sambil tersenyum ceria.
Aku turuti saja langkah kakinya, Kuputar-putar payungku sampbil membayangkan
cerita-cerita romantic ala china.
Iya, sudah lama sekali peristiwa itu terjadi. Namun sampai kini aku masih ingat
senyum cerianya dan langkah penuh semangatnya. Indahnya kenangan itu. Dulu kami
membayangkan cita-cita kami, sambil saling membaca hasil tulisan kami dan
berkomentar ini itu.
Tak pernah, ku temukan seseorang yang memiliki sifat begitu mirip dengan aku.
Bedanya, ia tak pernah takut mencoba, dan ia mau jadi orang pertama yang
membuat perubahan. Tidak seperti aku, yang hanya bisa ikut-ikutan dan tak mau
banyak ambil peran.
Dia tidak seperti gadis-gadis yang ku kenal kala itu. Yang berteman dengan
orang yang dapat memberikan kebutuhan mereka. Paham ? Kenyamanan, popularitas,
apa pun. Dia berbeda.
Dia tidak menilaiku dari rupa, karena aku tidak cantik. Dia tidak menilaiku
dari popularitas, karena aku waktu itu tidak populer, bahkan bisa dibilang
kuper. Dia juga tidak menilaiku karena aku pintar, masih banyak yang lebih
pintar dariku. Bahkan sampai saat ini aku belum bisa mendefinisikan mengapa ia mau
jadi temanku. Tapi, yang pasti, aku merasa persahabatan kami sangat istimewa,
bagiku.
Aku menganggapnya gadis aneh, saat pertama kali bertemu. Ia memakai kerudung.
Berbeda dengan temanku yag lain, ia tak pernah mau melepas kerudungnya. Aku
bahkan pernah menganggapnya kolot, tapi kemudian itulah yang membuatnya
istimewa.
Banyaknya kesamaan yang kami temukan antara kami, membuatku kami semakin dekat.
Kami sama-sama suka menulis. Kami sering saling bertukar tulisan untuk
saling mengomentari. Dan pada saat-saat itulah, ia sering menceritakan banyak
hal berharga padaku.
Ia bercerita tentang keluarganya. Bagaimana ayah dan ibunya mendidiknya sejak
kecil. Ada hal menarik dari kebiasaan mereka, yaitu, ayahnya selalu menyempatkan
diri memberikan kuliah shubuh tiap pagi kepada seluruh anggota keluarga. Bahkan
pembantu mereka juga turut mendengarkan. Dan kalau dia butuh uang tambahan
untuk keperluan sekolah, ibunya tak pernah langsung memberikan padanya. Dia
harus menghafal surat baru kemudian ibunya akan memberikannya uang.
Darinya aku mengenal banyak tentang islam. Tentang arti sebenarnya kesugguhan,
keikhlasan, keteguhan keyakinan, percaya diri dan banyak hal lainnya. Darinya
pula aku tau bahwa menggunakan kerudung atau khimar bagi seorang muslimah itu
adalah kewajiban. Bukan pilihan. Sebuah kesempurnaan iman dan keyakinan.
Tapi, di balik semua hal indah yang ku alami dan ku dapat darinya, ada hal
buruk yang membuatku tak pernah berhenti menyesal kala aku mengingatnya. Satu
kenangan buruk terakhir kali yang menodai indahnya kenangan persahabatan kami
Aku menyesal telah bersikap begitu egois dan arogan padanya, di saat-saat
terakhir kebersamaan kami. Meskipun, konflik itu adalah suatu hal yang wajar
dalam sebuah hubungan persahabatan, tapi konflik itu seakan menjadi penutup
hubungan persahabatan kami. Sesuatu yang seandainya bisa ku ulang, ingin
kuperbaiki.
Berawal, dari penyesalan itulah, ku labuhkan tekad dalam hatiku untuk berubah
menjadi seseorang yang lebih baik. Yang ku ikrarkan saat aku mulai melanjutkan
sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Sekolah ke empat dalam sejarah
kehidupanku. Dengan itu ku mulai hijrah pertamaku untuk mengikuti jejaknya,
sahabatku yag paling ku rindu. Yang menggunakan khimar yang selama ini selalu
di banggakannya di hadapanku. Meski niat ku saat itu karena dia, tapi kemudian,
setelah aku semakin mengerti tentang artinya hijrah bagi seorang muslim, aku
mulai mengikhlaskan niatku. Aku yakin, sesungguhnya, Ia, Yang Maha Berkehendak
telah menitipkan hidayah-Nya lewat sahabat yang ku cinta. Meski dengan penutup
yang pahit, tapi tidak ada hal yang sia-sia yang telah Ia tetapkan. Bismillah
.. Kan ku genggam hidayah ini erat-erat selamanya. Semoga langkah ini selalu
dalam ridho-Nya.
It's a pleasant to be your friend ..
FB : Rumaisha Al Hisaan
Twitter : @Rumaishaalhisan


0 comments:
Post a Comment